Februari 11, 2026

Gemanasional – Menyuarakan Semangat Kebangsaan dan Persatuan Politik

Gema Nasional Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberagaman persatuan bangsa

Politik Fasik
2025-06-26 | admin

Politik Itu Fasik, Licik, Lekakkah? Kebenaran di Atas Makna Bahasa Perpolitikan

Politik dan Kekuasaan: Saudara Kembar yang Mulai Terlupakan?

Ketika kita mendengar kata politik, sebagian besar dari kita langsung membayangkan kekuasaan. Wacana ini telah menjadi stereotip yang melekat erat dalam kesadaran kolektif masyarakat. Jika politik dipahami semata-mata sebagai instrumen untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan, maka generalisasi tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, apakah benar politik hanya tentang kekuasaan?

Dalam kajian yang lebih luas, politik dapat dilihat sebagai ruang dinamis tempat berbagai kepentingan saling bertemu, bernegosiasi, dan kadang bertabrakan. Tapi, jika kekuasaan tetap menjadi inti (subtansi) dari praktik politik, maka bisa dikatakan bahwa politik dan kekuasaan adalah saudara kembar—dua entitas yang sulit, bahkan mustahil, untuk dipisahkan.

Mengapa Politik Hari Ini Terlihat Semakin Terkelupas dari Substansinya?

Problematika yang muncul hari ini bukan sekadar tentang theaardvarkfl.com bagaimana politik dijalankan, tetapi tentang bagaimana ia dipahami. Politik dalam bentuknya yang klasik—seperti pada masa Yunani kuno ketika Aristoteles dan Plato menggagas politik sebagai jalan menuju kebaikan bersama (the good life)—kian hari makin terpinggirkan.

Kini, politik cenderung direduksi menjadi sekadar mekanisme elektoral, alat perebutan jabatan, atau ajang pragmatisme kepentingan. Di titik inilah krisis tafsir terhadap politik terjadi. Masyarakat mulai kehilangan orientasi mengenai ke mana arah kekuasaan itu bergerak dan seperti apa misi politik yang sebenarnya.

Ketika Politik Menjadi Hipokrit: Implikasi dan Bahayanya

Kita hidup dalam zaman ketika pembuktian terhadap realitas politik melalui kritik justru menghasilkan politik yang hipokrit. Artinya, transparansi tidak lagi membuahkan kejelasan, melainkan menciptakan keraguan yang baru. Ketika kritik tidak lagi membangun tapi justru memunculkan kecurigaan kolektif, maka kepercayaan publik terhadap politik akan terkikis.

Inilah yang membuat banyak orang menilai politik sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan, bukan hanya karena para pelakunya, tetapi karena bagaimana politik itu sendiri dipahami dan diterjemahkan secara sosial.

Perlu Ada Plato dan Aristoteles Baru

Maka, dalam konteks kontemporer ini, kita membutuhkan sosok-sosok baru—“Plato dan Aristoteles masa kini”—yang mampu merumuskan ulang visi politik, bukan hanya sebagai alat kekuasaan, tapi sebagai ruang etik, logis, dan humanistik. Kita perlu revitalisasi politik, yaitu upaya menyegarkan kembali nilai-nilai dasar politik agar tidak hanya menjadi alat dominasi, tetapi jalan untuk mencapai kehidupan publik yang adil dan beradab.

Menutup dengan Sebuah Perhatian

Politik akan terus menjadi subjek interpretatif yang kompleks. Setiap orang bisa saja menafsirkan politik dengan sudut pandangnya sendiri, berdasarkan pengalaman, pengetahuan, atau bahkan prasangka. Oleh karena itu, memahami politik bukan sekadar mengandalkan data atau wacana permukaan, tapi juga menyelami esensi dan subtansi dasarnya.

Sebab, pada akhirnya, orientasi dari bagaimana politik bekerja akan selalu berakar pada bagaimana kita memahami politik itu sendiri.

Baca JugaApa Kata Kaum Muda Tentang Politik? Riset Ungkap Kriteria Figur

Share: Facebook Twitter Linkedin
Politik Menurut Kaum Muda
2025-06-26 | admin

Apa Kata Kaum Muda Tentang Politik? Riset Ungkap Kriteria Figur

Pemilih muda (rentang usia 17-39 tahun), utamanya generasi milenial dan generasi Z, akan menjadi penyumbang suara terbesar dalam Pemilu 2024. Jumlahnya mencapai lebih dari 107 juta, atau 50-60% dari total 204 juta daftar pemilih tetap (DPT) secara nasional.

Artinya, secara tidak langsung mereka akan menjadi penentu kebijakan negara dalam politik praktis.

Namun, bagaimana pandangan para kaum muda sendiri terhadap politik elektoral?

Sejak Mei 2023 hingga saat ini, saya melakukan riset mengenai dinamika dan interaksi antara berbagai kelompok individu di Pulau Derawan, Kalimantan Timur. Salah satu subtema pembahasannya adalah pandangan kelompok muda terhadap politik dan Pemilu 2025.

Riset ini melibatkan delapan responden dari berbagai latar belakang profesi dan menggunakan metode wawancara mendalam. Mereka adalah aparatur sipil negara, pedagang pernak-pernik, nelayan, dan sejarawan lokal. Seluruhnya adalah profesi yang banyak berinteraksi dengan masyarakat, sehingga wawancara mendalam dengan mereka bisa mewakili sebagian besar pendapat masyarakat Pulau Derawan.

Rentang usia mereka adalah 30-45 tahun, terdiri dari tiga perempuan dan lima laki-laki. Jumlah penduduk di Pulau Derawan sendiri saat ini hanya sekitar 1.506 orang, dan sebagian besar dari mereka termasuk generasi milenial (lahir tahun 1981-1996) dan generasi Z (lahir tahun 1997-2012).

Hasil temuan sementara https://antadeldorado.com/ mengindikasikan adanya dua pandangan yang terbelah terhadap politik.

Pertama, ada yang tertarik dengan politik, sehingga mereka memiliki kriteria dan harapan terhadap para pemimpin politik – figur dan partai politik.

Kedua, ada yang tidak tertarik dengan politik atau dikenal sebagai apolitis, yang menyebabkan mereka tidak memiliki kriteria terhadap calon pemimpin atau pandangan terhadap politik.

Figur dan Partai Politik di Mata Kaum Muda

Partai politik dan figur-figur politik sebenarnya adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Ini karena keberhasilan partai politik hampir selalu dipengaruhi oleh figur partai politik itu sendiri. Mereka yang mampu memenangkan hati rakyat akan turut memperbesar pengaruh partai politik tersebut.

Enam dari delapan narasumber saya yang mewakili kelompok muda mengaku tertarik dan peduli dengan politik. Sedangkan sisanya apolitis.

Mereka yang peduli dengan politik menjabarkan lebih detail seperti apa kriteria figur pemimpin, figur politik, serta partai politik yang mereka harapkan.

Secara garis besar, ada empat kriteria yang mereka harapkan dari siapa pun pemimpin yang terpilih dari kontestasi politik.

Pertama adalah seiman. Dua dari tiga narasumber perempuan memandang agama sebagai modal utama untuk memilih calon pemimpin masa depan. “Seiman” adalah kata yang pertama kali mereka sebut sebagai kriteria figur politik yang mereka harapkan. Mereka meyakini bahwa ajaran agama mereka – Islam – adalah yang terbaik, sehingga individu yang seiman dianggap cocok untuk memimpin mereka.

Kedua adalah yang memahami kondisi di daerah. Bagi para pemilih muda, baik laki-laki maupun perempuan. Pemahaman terhadap kondisi daerah setempat merupakan hal wajib yang harus dikuasai oleh calon pemimpin politik. Ini mencakup penguasaan bahasa daerah, adat istiadat, dan budaya setempat. Tidak hanya sekadar selebrasi dan datang kampanye dengan mengenakan pakaian daerah.

Baca JugaMenghadapi Pemilu 2024: Tantangan Sikap Politik Warga Negara

Share: Facebook Twitter Linkedin
Tentang Pemilu Negara Indonesia
2025-06-23 | admin

Menghadapi Pemilu 2024: Tantangan Sikap Politik Warga Negara

Menghadapi pemilihan yang begitu penting bagi masa depan negara kita, sikap politik kita menjadi krusial. H-2 menuju pemungutan suara, suasana politik semakin tegang dengan serangkaian kampanye terakhir dan upaya terakhir dari masing-masing kandidat untuk meraih suara pemilih.

Para kandidat dari berbagai partai politik terus berusaha memperoleh dukungan, baik melalui jepang slot janji-janji politik maupun upaya memperbaiki citra mereka. Namun, di sisi lain, warga negara juga harus mengambil sikap politik yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Sikap politik yang bijaksana tidak hanya tentang memilih kandidat berdasarkan popularitas atau janji manis semata. Ini juga tentang memahami visi, misi, dan program kerja yang diusung oleh masing-masing kandidat. Lebih dari itu, sikap politik yang bertanggung jawab mempertimbangkan dampak jangka panjang dari pilihan kita terhadap negara dan masyarakat.

Kita sebagai warga negara memiliki tanggung jawab untuk melakukan pemilihan yang cerdas, berdasarkan informasi yang akurat dan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu yang dihadapi negara kita saat ini. Selain itu, kita juga harus menjaga ketertiban dan kedamaian selama proses pemilihan, menghormati perbedaan pendapat, serta tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Selain itu, penting untuk diingat bahwa partisipasi politik tidak berakhir pada hari pemilihan. Setelah pemilihan selesai, kita harus tetap aktif dalam mengawasi kinerja para pemimpin yang terpilih, memberikan masukan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sebagai warga negara, sikap politik kita memiliki dampak yang besar terhadap arah dan masa depan negara kita. Dengan hanya dua hari tersisa sebelum pemungutan suara Pemilu 2024, mari kita ambil sikap politik yang bijaksana, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Suksesnya sebuah pemilihan tidak hanya tergantung pada para kandidat, tetapi juga pada sikap politik yang diambil oleh setiap individu dalam masyarakat.

Pasca dilakukannya amandemen terhadap UUD 1945, sistem pemerintahan Indonesia cenderung mengarah pada sistem presidensial. Namun, menurut Mohammad Fajrul Falaakh, sistem pemerintahan Indonesia juga “mengandung” ciri sistem pemerintahan parlementer. Ciri itu terlihat pada fusion of executive and legislative power dalam pembentukan Undang-undang, eksistensi koalisi partai politik pendukung pemerintahan dan monopoli partai politik dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. Dengan dikategorikan sebagai negara yang menerapkan sistem presidensial, Indonesia sangat dimungkinkan bisa mengalami kondisi politik yang diametral sebagai dampak prinsip winner takes all dan separation of powers.

Baca JugaMengapa Politik Uang Masih Terjadi Walau Sudah Ada UU?

Share: Facebook Twitter Linkedin
Politik Uang Dari Tahun ke Tahun
2025-06-13 | admin

Mengapa Politik Uang Masih Terjadi Walau Sudah Ada UU?

Istilah politik uang atau money politic sering didengar ketika mendekati pesta demokrasi, termasuk Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada esok hari, (27/11/2024).

Lihat juga: Membincang Kewajiban Izin Kampanye dalam Pilkada 2024 Bagi Anggota Dewan

Politik uang memainkan peran untuk menggaet nurani rakyat menggunakan imbalan materi. Bisa dikatakan https://wowbudgethotel.com/special-offers/ bahwa ini merupakan praktik jual beli suara pada proses politik.

Apa Itu Politik Uang?

Pakar hukum tata negara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Rifqi Ridlo Phahlevy SH MH mengatakan bahwa politik uang adalah proses transaksi suara rakyat dalam proses politik elektoral (pemenangan pemilihan umum dan/atau Pemilihan kepala daerah) menggunakan uang sebagai instrumen transaksinya.

Dengan kata lain, ucap Dr Rifqi, sapanya, ini adalah praktik penggunaan kekuatan finansial untuk membeli suara rakyat guna memenangkan proses pertarungan politik.

“Dalam Islam, politik uang identik dengan konsep risywah (suap), yakni penggunaan uang/ harta untuk mendapatkan keuntungan secara tidak layak dari keputusan atau tindakan seseorang,” ucapnya.

Berpengaruh dalam Penentuan Hasil Pilkada

Baik dari sisi politik kenegaraan maupun dalam Islam, menurut Dr Rifqi praktek ini adalah suatu kejahatan, bukan sekedar pelanggaran, karena dipandang merendahkan harkat kemanusiaan dan mengancam keberlangsungan suatu peradaban.

Dr Rifqi mengatakan bahwa dalam konteks politik elektoral, politik uang akan sangat mempengaruhi hasil dari Pilkada. Terlebih akhir – akhir ini, kualitas demokrasi di Indonesia mengalami pemerosotan.

Kebanyakan masyarakat masih melihat uang sebagai bentuk pertukaran yang sepadan untuk proses memilih mereka.

“Masih segar diingatan kita tentang polemik Bansos (bantuan sosial) yang dipandang sebagai kunci kemenangan Paslon 02 dalam kontestasi Pilpres 2024,” dosen Hukum Umsida itu.

Dalam konteks Pilkada, imbuhnya, selama ini penggunaan politik uang terbukti efektif, karena proses pembuktiannya terbilang sulit dan pelik. Mengingat tidak banyak masyarakat lokal yang malah berbahagia dengan proses transaksi politik yang terjadi.

Menurutnya, Keberadaan UU Pemilu dan UU Pilkada sebagai instrumen untuk mengatur jalannya kontestasi terbilang efektif.

Baca JugaMenang Atas China, Peringkat FIFA Indonesia Diprediksi Naik

“Namun jika dikaitkan dengan efektivitas dalam menanggulangi, apalagi mengurangi praktek politik uang, saya rasa tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa instrumen pengaturan itu efektif,” ujar dosen yang mendapat gelar doktor di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

Efektifitas hukum tidak cukup hanya didasarkan pada adanya peraturan perundang-undangan yang baik.

Karena untuk bekerjanya perundang-undangan sebagaimana mestinya, diperlukan struktur (penegakan) hukum yang kuat dan efektif, serta budaya hukum dalam masyarakat yang mendukung terpenuhinya tujuan dan cita hukum dalam undang-undang.

Ia mengatakan, “Permasalahannya sebagaimana diatas, struktur hukum yang bertanggung jawab atas penegakan hukum terbilang lemah. Di sisi lain, budaya hukum kepemiluan kita sudah terlanjur permisif terhadap praktek jual-beli suara,”.

Share: Facebook Twitter Linkedin
2025-06-07 | admin

Menang Atas China, Peringkat FIFA Indonesia Diprediksi Naik

Kemenangan timnas Indonesia atas China dalam laga internasional baru-baru ini menjadi sorotan besar di dunia sepak bola Asia. Tidak hanya karena keberhasilan menaklukkan tim kuat seperti China, namun juga karena hasil tersebut diprediksi akan berdampak positif pada peringkat FIFA Indonesia. Kemenangan ini menjadi momen penting yang mencerminkan perkembangan signifikan dalam performa tim Garuda, sekaligus membuka peluang untuk menembus peringkat yang lebih tinggi di level dunia.

Dalam pertandingan yang digelar dengan atmosfer kompetitif dan dukungan penuh dari para suporter, timnas Indonesia tampil percaya diri dan slot 10 ribu tak gentar menghadapi tekanan dari salah satu tim raksasa Asia. Lini pertahanan yang solid, transisi cepat dari bertahan ke menyerang, serta penampilan gemilang dari para pemain muda menjadi kunci kemenangan yang diraih dengan skor meyakinkan. Gol-gol yang tercipta memperlihatkan kualitas permainan yang semakin matang dan kolektif, jauh lebih stabil dibandingkan performa beberapa tahun silam.

Hasil ini tentu tidak hanya memengaruhi moral dan semangat juang para pemain, tetapi juga berdampak langsung pada sistem peringkat FIFA. Sistem peringkat FIFA memperhitungkan berbagai faktor seperti hasil pertandingan, kekuatan lawan, serta jenis laga (kompetitif atau persahabatan). Karena China memiliki peringkat lebih tinggi dari Indonesia, maka kemenangan ini memberikan poin tambahan yang cukup signifikan bagi Indonesia.

Sebelum pertandingan ini, Indonesia berada di kisaran peringkat 134 dunia dalam daftar FIFA. Berdasarkan perhitungan sementara dan simulasi dari beberapa analis sepak bola, kemenangan atas China berpotensi mendorong Indonesia naik beberapa peringkat, bahkan bisa menembus posisi 125 besar. Kenaikan ini tidak hanya menjadi catatan statistik, tetapi juga berpengaruh pada posisi undian di turnamen internasional serta memperkuat posisi tawar timnas di laga-laga uji coba internasional.

Lebih jauh, kemenangan atas China juga menunjukkan bahwa Indonesia mulai mampu bersaing dengan negara-negara yang memiliki tradisi dan infrastruktur sepak bola lebih maju. Hal ini tentunya tak lepas dari peran pelatih yang menerapkan strategi tepat, manajemen tim yang lebih profesional, serta regenerasi pemain muda yang terus dibina dengan baik.

Pemain-pemain seperti Marselino Ferdinan, Rafael Struick, hingga Pratama Arhan menunjukkan performa luar biasa, membuktikan bahwa talenta lokal bisa bersinar di panggung internasional. Disiplin taktik dan kepercayaan diri dalam bermain juga menunjukkan bahwa mentalitas pemain Indonesia mulai mengalami kemajuan.

Tentu saja, kemenangan ini harus dijadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Naiknya peringkat FIFA bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses panjang dalam membangun sepak bola nasional yang kompetitif. Dibutuhkan konsistensi, dukungan federasi, dan program jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi kejutan sesaat, tetapi benar-benar menjadi kekuatan baru di Asia.

Pencapaian ini juga menjadi sinyal bagi masyarakat dan pemerintah bahwa sepak bola Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. Dukungan dalam bentuk fasilitas, pembinaan usia dini, serta penyelenggaraan liga yang berkualitas akan menjadi pondasi penting untuk menciptakan tim nasional yang tangguh di masa depan.

Kesimpulannya, kemenangan timnas Indonesia atas China bukan sekadar hasil pertandingan, tetapi simbol kebangkitan sepak bola nasional. Dengan potensi kenaikan peringkat FIFA, Indonesia menegaskan eksistensinya di kancah internasional dan membuka peluang lebih besar untuk bersaing di ajang-ajang prestisius. Kini, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi performa dan terus melangkah maju sebagai kekuatan baru sepak bola Asia.

BACA JUGA: Meningkatnya Kasus Kanker pada Wanita di Negara Bersuhu Panas seperti Indonesia

Share: Facebook Twitter Linkedin